I NEED (M)OTHER

Islam dan Pergulatan Identitas

Filed under: Oret-oretan

PERHELATAN akbar Konferensi Tahuan Kajian Islam ke-VI yang dihadiri oleh para rektor, dosen, peneliti, dan para penulis muda dari berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia pada tanggal 26-29 November 2006 lalu di Bandung seolah menggambarkan sebuah gumpalan kegelisahan pemikir Islam Indonesia untuk menampilkan Islam agar bersuara di tengah arus zaman. Nampaknya, para pemikir Islam Indonesia tidak lagi terperangkap jebakan perang klasik ilmu agama dan ilmu yang dianggap sebagai ilmu sekuler, melainkan juga ingin mencari kembali Islam (reinventing Islam) yang mampu menjawab problem zaman kesekarangan. Mencari merupakan sebuah reaksi psikis terhadap sesuatu yang hilang dari genggaman. Mungkinkah gerak pemikiran Islam mulai bergeser pada kegelisahan identitas ?
Ditengah problem zaman kekinian dimana tatanan dunia jauh berbeda dengan beberapa abad sebelumnya, merelevansikan kembali agama kian menguak. Pada satu sisi Islam dipaksa untuk keluar dari diskursus modernisasi karena sudah usang, tetapi pada sisi lain perdebatan Islam dan modernisme belum menemukan titik usai hingga kini. Sekalipun demikian, arus besar perkembangan pemikiran Islam sudah mulai bergeser dari usaha mendamaikan antara ilmu agama dan ilmu sekuler (modernisasi Islam) sejak tahun 1970-an ke diskursus otentisitas Islam, seperti Islam global vis a vis Islam lokal. Arus pertama dan arus kedua sama-sama ingin mengajak Islam agar bersuara di tengah zaman modern dan pascamodern. Jika pemikiran pertama bergulat pada ranah penyamaan pondasi Islam dan modernisme, tetapi yang kedua pada aspek pemunculan identitas Islam.
Islam dimunculkan seolah memberikan jawaban atas segala problem manusia. Sekilas, Islam terlihat bangkit di era sekarang ini. Islam dicobahadirkan oleh pemeluknya dalam beragam wajah dengan memberikan ruang spiritualitas yang selama ini tercerabut oleh nalar positivistik. Rating stasiun-stasiun televisi tiba-tiba naik setelah menayangkan program yang berbau Islam. Setiap tahun jamaah haji Indonesia tidak pernah surut, sekalipun lilitan ekonomi bangsa terus melorot. Lain bilik, manusia berani membantai sesama ketika agamanya diusik oleh orang yang dia anggap sebagai yang lain (the other). Pertanyaanya kemudian, mungkinkah wajah Islam (agama) yang demikian akan mampu membebaskan manusia dari problem yang dihadapi manusia kontemporer ? Apakah itu yang dinamakan kebangkitan spiritualitas agama ?
Islam sudah terlanjur diiamni oleh para pemeluknya tidak hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi satu sistem yang menyuguhkan aturan-aturan di dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam nalar yang demikian, Islam merupakan ajaran yang universal (kaffah), mencakup jawaban segala komponen persoalan manusia. Islam layaknya panacea (obat segala penyakit) bagi seluruh totalitas persoalan yang dihadapi manusia. Setiap ada persoalan, Islam akan menyelesaikannya. Demikianlah Islam yang diyakini para pemeluknya selama berabad-abad lamanya. Maka muncul kemudian, , ekonomi Islam, dan Islam-islam lainnya. Kata Islam seolah niscaya hadir dalam bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak menampilkan Islam, sesuatu itu menjadi tidak Islami. Term Islami direduksi hanya sebatas simbol.
Arus globalisasi yang menyeragamkan identitas pada satu sisi dan membangkitkan kontestasi identitas lokal pada sisi lain, menggiring kerinduan manusia akan identitas "azali" mereka. Kontestasi mengandaikan adanya ketegangan antar-identitas, yakni identitas dominan vis a vis devian. Islam yang niscayanya menjadi pendamai identitas yang bersitegang (Q.S.49:13), justru membakukan dirinya menjadi identitas baru. Islam tiba-tiba muncul dimana-mana. Alih-alih akan memberikan solusi krisis identitas manusia, justru saat itulah agama menjadi problem. Pembakuan menjadi identitas akan menjadikan Islam mudah untuk dibajak dalam melindungi segala kepentingan yang bukan kepentingan mulia agama.
Menarik Islam (agama) menjadi identitas mendorong hasrat politisasi terhadap agama. Saat terjadi aksi teror dan konflik antaragama di Poso misalnya, justru kesalahan diletakkan terhadap mereka yang mempolitisir Islam, tetapi luput melihat faktor yang mendorong terjadinya politisasi Islam itu sendiri. Islam yang diendapkan menjadi identitas mengundang hasrat untuk dipolitisir. Tidak hanya untuk akumulasi kekuasaan di dalam Pemilu atau Pilkada tetapi juga untuk mengumpulkan kapital, seperti maraknya tayangan televisi yang memainkan simbol-simbol yang dianggap oleh pemeluknya sebagai identitas Islam. Oleh karena itu, praktik politisasi terhadap Islam merupakan akibat dari memperlakukan Islam sebagai sebuah identitas.
Para aras selanjutnya pergumulan tidak hanya tejadi dalam Islam secara eksternal, tetapi juga menjadi masalah di dalam tubuh Islam sendiri. Konflik Islam bercorak Arab berhadap-hadapan dengan Islam yang berakulturasi dengan budaya nusantara. Haruskah Islam yang bercorak nusantara dengan peci dan sarungnya digerus oleh supremasi identitas dominan Islam yang berocrak Arab dengan surban dan jubahnya ? Corak yang pertama diposisikan sebagai yang salah dan menyimpang, sementara yang pertama dianggap sebagai pemegang otentisitas Islam. Inilah yang sedang terjadi dalam Islam Indonesia. Kerinduan untuk membangun corak Islam sebagaimana formasi negeri jazirah Arab dengan dikeluarkannya Perda-perda Syari’at Islam yang tanpa refleksi dan kotemplasi makna merupakan bentuk dari dominannya corak Islam yang kedua.
Dalam ranah pengembangan ilmu pengetahuan, Islam yang mengidentitas tidak lagi menjadi produktif dalam menyumbangkan ilmu pengetahuan. Hampir tidak ditemukan pemikir Islam yang menyumbang kemajuan ilmu kontemporer kecuali hanya sibuk mencari pembenaran teks (Islamisasi). Islam pada posisi ini memerankan diri layaknya badan fatwa yang memberikan stempel halal atau haram terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan. Selain tidak produktif, gerak Islam yang demikian juga sangat defensif. Islam berposisi bertahan terhadap segala serangan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan baik dalam bidang sains dan humaniora di dunia Barat, tetapi enggan terjun langsung dalam pergulatan ilmu pengetahuan.
            Menggumpalnya Islam sebagai sebuah identitas tunggal dan absolut berakar dari struktur keyakinan yang tidak mampu memilah antara yang sakral dan yang profan, terutama dalam melihat teks al-Qur’an. Islam dominan cenderung melihat teks al-Qur’an mutlak sepenuhnya maksud Tuhan. Tidak ada ilmu dan kebenaran di luar al-Qur’an.  Sehingga hasil pemahaman terhadap teks yang kemudian menjadi praktik diklaim sebagai indentitas Islam yang otentik. Padahal, teks terbatas dan hasil pemahaman pun terbatas. Karena pemahaman terbatas, maka praktik yang dihasilkan dari pemahaman teks tidak bisa dijadikan sebagai identitas, apalagi sebagai identitas otentik Islam. Karena al-Qur’an menggunakan bahasa manusia (Q.S.12: 02). Dan bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh maksud Tuhan yang Maha Luas (Q.S.17:109).
Oleh karena itu, Islam harus keluar dari kungkungan identitas keislaman yang kaku. Identitas Islam tidak tunggal, tidak stagnan, tidak terkatakan, dan tidak berwujud. Artinya, identitas Islam bukan bahasa atau simbol-simbol melainkan jiwa dari simbol dan bahasa tersebut. Sebagai sebuah jiwa dia tidak mengendap dalam satu ruang semata, melainkan berada dalam tiap-tiap ruang. Sebab jika Islam itu begitu luas, sehingga tidak bisa mengendap hanya dalam satu simbol yang kemudian dijadikan sebagai identitas. Orang yang dianggap baik oleh Tuhan bukan orang yang bersurban, cantik, hitam, atapun putih, melainkan orang yang berjiwa mulia. Dengan demikian, sesuatu yang Islami bukan karena dia menampilkan simbol-simbol tertentu yang dianggap sebagai identitas Islam, melainkan nilainya. Itulah esensi Islam sebagai petunjuk manusia (hudan li al-nass). Wallahu A’lam

Agama, Media, dan Citra Kesalehan

Filed under: Oret-oretan

Satu hal yang tidak disadari oleh para pemerhati agama paska-enlightment age abad ke-18 adalah bahwa agama merupakan bagian dari jiwa manusia yang senantiasa hadir di setiap detak kehidupan manusia (omnipresent). Sifat agama yang omnipresent hadir dalam lubuk manusia dikarenakan ia sesuai dengan spiritualitas manusia yang merindukan akan hadirnya the ultimate reality sebagai akibat dari fitrah manusia (Q.S. 30:30) yang membutuhkan kehadiran Tuhan (Q.S. 35:15).


Sekalipun demikian, sebagai fakta sosial (bahasanya Durkheim) yang hadir dalam realitas sejarah manusia yang profan, rentang perjalanan agama dipenuhi dengan bergumulnya beragam ketegangan-ketegangan. Seiring kemajuan rasio manusia sebagai akibat dari revolusi pemikiran secara besar-besaran (renaissance/aufklarung), kemunculan benda-benda teknologi hingga abad dua puluh satu ini, secepat kilat menggeser paradigma manusia dalam memperlakukan agamanya.


Lambat laun, agama dihadapkan oleh sebuah gelombang peradaban yang sangat liar. Pesatnya kemajuan teknologi industri yang berdampak pada kemajuan bidang informasi (information technology), tidak hanya melipat dunia menjadi kecil, meleburkan batas teritorial, dan mengaburkan garis hijau identitas primordial (ras, bahasa, budaya), tetapi juga menyuguhkan realitas keberingasan manusia dalam memuja materi, imaji, kehormatan, dan gengsi tanpa batas.


Jika mau jujur, di dalam lingkaran gejolak itulah, agama dan cara keberagamaan masyarakat kini berdiri tegak dengan kuat. Agama memang hadir dalam kehidupan kita, tetapi ia hadir dalam wajah yang lain dan asing. Bahkan agama yang mengemuka (praktik keberagamaan) dalam realitas tersebut sangat asing bagi diri agama itu sendiri. Karena, pijakan dasar dari praktik keberagamaan itu tidak lagi dari petuah-petuah suci agama yang benar-benar murni dan suci. Keberagamaan itu lahir dari akumulasi hasrat (nafsu) kelobaan yang bersembunyi di balik bahasa suci agama.


Berbeda dengan masyarakat abad pencerahan dan pemuja modernisme (pemikir positivis), era kini agama justru telah dianggap sebagai kekuatan yang maha dahsyat. Selalu mengitari jiwa manusia. Sebuah kesadaran manusia akan berartinya agama bagi dirinya. Akan tetapi, kesadaran itu hanya kesadaran artifisial, permukaan, dan bahkan mungkin parsial semata. Itulah bentuk kesadaran akan pentingnya beragama dalam masyarakat dunia dimana alat produksi informasi menjadi segala-galanya.


Kesadaran akan hadirnya agama di atas bisa kita lihat dengan munculnya gambar-gambar (baca; simbol) — apa yang selama ini kita anggap representasi religiusitas — di media-media massa, khususnya televisi. Kehadiran simbol-simbol agama tersebut di media bukan bebas nilai sehingga otoritas tafsir agama bukan lagi menjadi milik paten agama, apalagi para ahli agama (ulama, bikhu, pastur, dan pendeta), tetapi juga menjadi milik media itu sendiri. Media berhak menafsirkan sekendak hati terhadap agama dan religiusitas.


Pada langgam itulah, tuntutan agama (baca; agamawan) untuk melakukan akselerasi mengemuka untuk menjawab tantangan tersebut. Harus diamini, pergeseran otoritas tafsir agama dari agamawan ke media mengubah wajah agama itu sendiri.


Asumsi ini berdiri dengan alasan. Pertama, watak dasar media adalah hanya untuk mengejar rating, dan meningkatkan masukya iklan. Jika dirunut, hal tersebut bermuara pada akumulasi kapital (baca; modal). Bahkan pada ranah gerakan media yang lebih radikal, tidak jarang ia dijadikan alat untuk mempengaruhi dan memfasilitasi suatu kelompok untuk menghegemoni (baca; menguasai) kelompok lain.(Yasraf Amir Piliang, 2004). Ancam taraf minimumnya adalah akan mendorong munculnya praktik pragmatisasi agama.


Kedua, sifat media (televisi) adalah doktrinal dan dogmatis. Tidak ada ruang dialog antara pemirsa dengan media sebagai penyampai tanda-tanda. Permirsa, masyarakat, dan umat, hanya dijejali pesan dan tanda terus-menerus tanpa diberi ruang sedikitpun untuk menyela. Padahal, sekalipun agama juga doktrinal dan dogmatis, tetapi ia masih memberikan ruang dialog dan mengajak untuk berfikir (Q.S.2:242). Dari kekuatan doktrinal dan dogmatis itulah berlangsung proses penanaman ideologi, citra, dan imajinasi. Media tidak lebih dari ruang permaian citra (game of image). Inilah yang menjadikan agama mudah dikonstruksi sesuai tafsir dan sudah barang tentu juga menguntungkan kapital media itu sendiri.


Tafsir media atas kesalehan misalnya dicirikan dalam bentuk orang yang senantiasa menggunakan surban, tasbih, dan menggunakan produk-produk iklan media. Agama dipersempit ruang geraknya, menjadi hanya berfungsi untuk mengusir syetan dan tukang doa yang direpresentasikan dengan simbol tokoh agama (ulama;kiai). Disini makna kesalehan begitu sempit dan sangat simbolis. Ketika kesalehan yang simbolis itu terkonstruk dalam alam pikir masyarakat, barulah kemudian simbol-simbol lain yang dicitrakan mampu mengadirkan nilai spiritualitas dimunculkan melalui pesan dan tanda-tanda yang datang secara represif menjejali alam sadar umat beragama.


Dalam pada itu, jiwa manusia yang rindu spiritualitas dengan seperangkat simbolnya digiring kearah pemujaan akan kepemilikan produk-produk dengan mengimajinasikan bahwa produk-produk itu juga bisa menjadi simbol untuk menghadirkan nilai spiritualitas, laiknya sorban, kitab suci, atau jilbab. Shalat seolah tidak akan khusyuk kalau tidak menggunakan baju dan parfum bermerek, bau mulut saat puasa seakan makruh kalau tidak menggunakan pasta gigi tanpa fluoride, maaf-maafan kurang afdhal tanpa lewat SMS, berbuka puasa kurang hikmat kalau tiada es sirup yang tesaji dalam iklan, berhaji kurang kurang religius tanpa diiring-iringi mobil saat menghantar calon jama’ah haji ke bandara.


Dus, kenyataan tersebut kemudian menggeser agama menjadi asing bagi para pemeluknya, karena kesalehan menjadi sangat dangkal, sementara produk yang dicitrakan sebagai simbol spiritual terus dijejali. Citra yang mengitari tanda-tanda iklan dalam iklan terus menjejali ranah esoteris keberagamaan, sehingga identitas spiritualitas yang mendalam dan original itu teserabut dari akarnya (tradisi dan teks agama). Praktik keberagamaan seperti ini akan mengasingkan manusia dari semangat keagamaannya sendiri. Artifisialitas dalam mempraktikkan agama seperti ini akan berdampak pada temporalitas semangat keagamaan. Walhasil, ritual agama lebih cenderung menggiring kepada praktik fashionable, lifestyle, dan konsumerisme.


Kenyataan di atas itulah, ritual fashion masyarakat agama yang merasuk hampir ke segala ranah ritual formal agama (shalat, puasa, dan haji) dimana ritual dibalut dengan mode konsumtif. Disinilah, nantinya akan kita lihat bagaimana agama menjadi sebuah lipstik kehidupan dengan religiusitas masyarakat agama yang tereprentasi dalam formasi masyarakatnya yang konstumtif, bukan masyarakat agama yang produktif.



Dus, agama dituntut kerja keras dan cerdas dalam melawan gelombang besar peradaban yang demikian liar, moralitas yang ambruk, dan hasrat (nafsu, ketamakan) yang binal dan menghadirkan spiritualitas yang banal ini. Tentu semua ini, tidak cukup menjadi tugas orang yang beragama secara lipstik, tetapi orang yang peduli terhadap agama dan moralitas yang sesungguhnya. Menyikapi pergeseran ini, jauh lebih mendasar dan penting dari sekedar menguras pikiran dan tenaga menghakimi mereka yang dijustivikasi sebagai ’sesat’ seperti Mahdi, Ahmadiyah, dan komunitas Eden. Tidak mudah memang. Tetapi disitulah semangat jihad (fisik) dan ijtihad (pikiran) harus diletakkan guna membangun agama yang prograssif dan produktif (bukan konsumtif) dalam memberikan sumbangsih untuk kemajuan berperadaban manusia yang lebih ramah dan manusiawi. Amien. Wallahu A’lam. []*** Agus Hilman, Centre of Social Analysis and Transformation (CSAT)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer