I NEED (M)OTHER

Agama, Media, dan Citra Kesalehan

Filed under: Oret-oretan

Satu hal yang tidak disadari oleh para pemerhati agama paska-enlightment age abad ke-18 adalah bahwa agama merupakan bagian dari jiwa manusia yang senantiasa hadir di setiap detak kehidupan manusia (omnipresent). Sifat agama yang omnipresent hadir dalam lubuk manusia dikarenakan ia sesuai dengan spiritualitas manusia yang merindukan akan hadirnya the ultimate reality sebagai akibat dari fitrah manusia (Q.S. 30:30) yang membutuhkan kehadiran Tuhan (Q.S. 35:15).


Sekalipun demikian, sebagai fakta sosial (bahasanya Durkheim) yang hadir dalam realitas sejarah manusia yang profan, rentang perjalanan agama dipenuhi dengan bergumulnya beragam ketegangan-ketegangan. Seiring kemajuan rasio manusia sebagai akibat dari revolusi pemikiran secara besar-besaran (renaissance/aufklarung), kemunculan benda-benda teknologi hingga abad dua puluh satu ini, secepat kilat menggeser paradigma manusia dalam memperlakukan agamanya.


Lambat laun, agama dihadapkan oleh sebuah gelombang peradaban yang sangat liar. Pesatnya kemajuan teknologi industri yang berdampak pada kemajuan bidang informasi (information technology), tidak hanya melipat dunia menjadi kecil, meleburkan batas teritorial, dan mengaburkan garis hijau identitas primordial (ras, bahasa, budaya), tetapi juga menyuguhkan realitas keberingasan manusia dalam memuja materi, imaji, kehormatan, dan gengsi tanpa batas.


Jika mau jujur, di dalam lingkaran gejolak itulah, agama dan cara keberagamaan masyarakat kini berdiri tegak dengan kuat. Agama memang hadir dalam kehidupan kita, tetapi ia hadir dalam wajah yang lain dan asing. Bahkan agama yang mengemuka (praktik keberagamaan) dalam realitas tersebut sangat asing bagi diri agama itu sendiri. Karena, pijakan dasar dari praktik keberagamaan itu tidak lagi dari petuah-petuah suci agama yang benar-benar murni dan suci. Keberagamaan itu lahir dari akumulasi hasrat (nafsu) kelobaan yang bersembunyi di balik bahasa suci agama.


Berbeda dengan masyarakat abad pencerahan dan pemuja modernisme (pemikir positivis), era kini agama justru telah dianggap sebagai kekuatan yang maha dahsyat. Selalu mengitari jiwa manusia. Sebuah kesadaran manusia akan berartinya agama bagi dirinya. Akan tetapi, kesadaran itu hanya kesadaran artifisial, permukaan, dan bahkan mungkin parsial semata. Itulah bentuk kesadaran akan pentingnya beragama dalam masyarakat dunia dimana alat produksi informasi menjadi segala-galanya.


Kesadaran akan hadirnya agama di atas bisa kita lihat dengan munculnya gambar-gambar (baca; simbol) — apa yang selama ini kita anggap representasi religiusitas — di media-media massa, khususnya televisi. Kehadiran simbol-simbol agama tersebut di media bukan bebas nilai sehingga otoritas tafsir agama bukan lagi menjadi milik paten agama, apalagi para ahli agama (ulama, bikhu, pastur, dan pendeta), tetapi juga menjadi milik media itu sendiri. Media berhak menafsirkan sekendak hati terhadap agama dan religiusitas.


Pada langgam itulah, tuntutan agama (baca; agamawan) untuk melakukan akselerasi mengemuka untuk menjawab tantangan tersebut. Harus diamini, pergeseran otoritas tafsir agama dari agamawan ke media mengubah wajah agama itu sendiri.


Asumsi ini berdiri dengan alasan. Pertama, watak dasar media adalah hanya untuk mengejar rating, dan meningkatkan masukya iklan. Jika dirunut, hal tersebut bermuara pada akumulasi kapital (baca; modal). Bahkan pada ranah gerakan media yang lebih radikal, tidak jarang ia dijadikan alat untuk mempengaruhi dan memfasilitasi suatu kelompok untuk menghegemoni (baca; menguasai) kelompok lain.(Yasraf Amir Piliang, 2004). Ancam taraf minimumnya adalah akan mendorong munculnya praktik pragmatisasi agama.


Kedua, sifat media (televisi) adalah doktrinal dan dogmatis. Tidak ada ruang dialog antara pemirsa dengan media sebagai penyampai tanda-tanda. Permirsa, masyarakat, dan umat, hanya dijejali pesan dan tanda terus-menerus tanpa diberi ruang sedikitpun untuk menyela. Padahal, sekalipun agama juga doktrinal dan dogmatis, tetapi ia masih memberikan ruang dialog dan mengajak untuk berfikir (Q.S.2:242). Dari kekuatan doktrinal dan dogmatis itulah berlangsung proses penanaman ideologi, citra, dan imajinasi. Media tidak lebih dari ruang permaian citra (game of image). Inilah yang menjadikan agama mudah dikonstruksi sesuai tafsir dan sudah barang tentu juga menguntungkan kapital media itu sendiri.


Tafsir media atas kesalehan misalnya dicirikan dalam bentuk orang yang senantiasa menggunakan surban, tasbih, dan menggunakan produk-produk iklan media. Agama dipersempit ruang geraknya, menjadi hanya berfungsi untuk mengusir syetan dan tukang doa yang direpresentasikan dengan simbol tokoh agama (ulama;kiai). Disini makna kesalehan begitu sempit dan sangat simbolis. Ketika kesalehan yang simbolis itu terkonstruk dalam alam pikir masyarakat, barulah kemudian simbol-simbol lain yang dicitrakan mampu mengadirkan nilai spiritualitas dimunculkan melalui pesan dan tanda-tanda yang datang secara represif menjejali alam sadar umat beragama.


Dalam pada itu, jiwa manusia yang rindu spiritualitas dengan seperangkat simbolnya digiring kearah pemujaan akan kepemilikan produk-produk dengan mengimajinasikan bahwa produk-produk itu juga bisa menjadi simbol untuk menghadirkan nilai spiritualitas, laiknya sorban, kitab suci, atau jilbab. Shalat seolah tidak akan khusyuk kalau tidak menggunakan baju dan parfum bermerek, bau mulut saat puasa seakan makruh kalau tidak menggunakan pasta gigi tanpa fluoride, maaf-maafan kurang afdhal tanpa lewat SMS, berbuka puasa kurang hikmat kalau tiada es sirup yang tesaji dalam iklan, berhaji kurang kurang religius tanpa diiring-iringi mobil saat menghantar calon jama’ah haji ke bandara.


Dus, kenyataan tersebut kemudian menggeser agama menjadi asing bagi para pemeluknya, karena kesalehan menjadi sangat dangkal, sementara produk yang dicitrakan sebagai simbol spiritual terus dijejali. Citra yang mengitari tanda-tanda iklan dalam iklan terus menjejali ranah esoteris keberagamaan, sehingga identitas spiritualitas yang mendalam dan original itu teserabut dari akarnya (tradisi dan teks agama). Praktik keberagamaan seperti ini akan mengasingkan manusia dari semangat keagamaannya sendiri. Artifisialitas dalam mempraktikkan agama seperti ini akan berdampak pada temporalitas semangat keagamaan. Walhasil, ritual agama lebih cenderung menggiring kepada praktik fashionable, lifestyle, dan konsumerisme.


Kenyataan di atas itulah, ritual fashion masyarakat agama yang merasuk hampir ke segala ranah ritual formal agama (shalat, puasa, dan haji) dimana ritual dibalut dengan mode konsumtif. Disinilah, nantinya akan kita lihat bagaimana agama menjadi sebuah lipstik kehidupan dengan religiusitas masyarakat agama yang tereprentasi dalam formasi masyarakatnya yang konstumtif, bukan masyarakat agama yang produktif.



Dus, agama dituntut kerja keras dan cerdas dalam melawan gelombang besar peradaban yang demikian liar, moralitas yang ambruk, dan hasrat (nafsu, ketamakan) yang binal dan menghadirkan spiritualitas yang banal ini. Tentu semua ini, tidak cukup menjadi tugas orang yang beragama secara lipstik, tetapi orang yang peduli terhadap agama dan moralitas yang sesungguhnya. Menyikapi pergeseran ini, jauh lebih mendasar dan penting dari sekedar menguras pikiran dan tenaga menghakimi mereka yang dijustivikasi sebagai ’sesat’ seperti Mahdi, Ahmadiyah, dan komunitas Eden. Tidak mudah memang. Tetapi disitulah semangat jihad (fisik) dan ijtihad (pikiran) harus diletakkan guna membangun agama yang prograssif dan produktif (bukan konsumtif) dalam memberikan sumbangsih untuk kemajuan berperadaban manusia yang lebih ramah dan manusiawi. Amien. Wallahu A’lam. []*** Agus Hilman, Centre of Social Analysis and Transformation (CSAT)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://agushilman.blogsome.com/2006/10/28/agama-media-dan-citra-kesalehan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer